BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di era globalisasi dan otonomi daerah, tuntutan
peningkatan pengajaran sekolah semakin banyak muncul, dimana arah pembelajaran
telah berubah dari kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran
yang berpusat pada siswa saat ini. “Artinya, reformasi sekolah, khususnya
pembelajaran, merupakan hal mendesak yang harus direncanakan dan dilaksanakan
dengan baik.” Oleh karena itu, manajemen
pembelajaran dituntut untuk mengetahui bagaimana menyelenggarakan pembelajaran
di sekolah.[1]
Manajemen pembelajaran
berarti seluruh pengaturan proses belajar mengajar untuk mencapai belajar
mengajar yang efektif dan efisien. “Pada dasarnya manajemen
pembelajaran adalah pengorganisasian seluruh kegiatan pembelajaran, dan
kegiatan pembelajaran tersebut diklasifikasikan sebagai pendidikan inti dan
kurikulum pendukung. Guru atau pendidik berperan sebagai pemimpin dalam
pengelolaan pembelajaran.” Oleh karena itu, pendidik
memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan beberapa tahapan kegiatan
pengelolaan, yang meliputi perencanaan pembelajaran, organisasi pembelajaran,
pengarahan (directing) pembelajaran yang diselesaikan dan evaluasi.
Ketika merencanakan
kegiatan pembelajaran, pendidik menentukan tujuan pembelajaran, yaitu tujuan
yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran. “Pembelajaran merupakan suatu proses yang terdiri dari aspek-aspek, yaitu
apa yang dilakukan siswa dan apa yang dilakukan guru.” Oleh karena itu, diperlukan perencanaan untuk mencapai proses pembelajaran
yang berkualitas dan maksimal.[2]
Manajemen pembelajaran
adalah bagian yang sangat penting dari proses pembelajaran dan pendidikan. “Sehingga manajemen pembelajaran juga memiliki beberapa fungsi dan hal
penting yang harus diperhatikan. Beberapa bagian terpenting dari manajemen
pembelajaran adalah menciptakan lingkungan belajar, memenuhi pengajaran dan
latihan siswa, meningkatkan kegiatan belajar dan meningkatkan kedisiplinan
siswa.” Selain perencanaan tugas ajar bidang kognitif, perlu juga dilakukan
perencanaan tugas ajar psikomotorik dan afektif pada saat penyusunan materi.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
Konsep Sistem Manajemen Pembelajaran (Learning Management System)?
2.
Bagaimana Penggunaan Sistem Manajemen Pembelajaran Moodle dalam
Pembelajaran?
3. Bagaimana Penggunaan Sistem Manajemen Pembelajaran Google Classroom dalam Pembelajaran?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Sistem Manajemen Pembelajaran (Learning Management System)
Manajemen pembelajaran
terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan belajar. Secara bahasa (etimologi),
manajemen berasal dari kata kerja “to manage” yang berarti
“mengendalikan”. Sementara itu, tergantung dari istilah (terminologinya),
banyak pendapat mengenai pengertian manajemen, diantaranya menurut George R.
Terry yang mengatakan bahwa manajemen adalah suatu proses yang khas yang
terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pemprakarsaian dan pengendalian
tindakan-tindakan untuk menetapkan tujuan dan menjangkau mereka dengan penggunaan
sumber daya manusia dan lainnya.[3]
Sedangkan menurut Hanry L.
Siski, manajemen adalah koordinasi seluruh sumber daya melalui proses
perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan dan pengendalian untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. “Ini berarti bahwa
manajemen secara tepat mengoordinasikan semua sumber daya melalui proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Menurut Ibrahim
Bafadhal, manajemen pembelajaran adalah keseluruhan upaya mengatur proses
belajar mengajar untuk mencapai proses belajar mengajar yang efektif dan
efisien.” Manajemen instruksional
juga biasa disebut dengan manajemen kurikulum dan pembelajaran.
Belajar juga berasal dari
kata “teaching” yang berarti “mengajar”. “Pembelajaran pada hakekatnya merupakan interaksi antara anak dengan anak,
anak dengan bahan pembelajaran, dan anak dengan pendidik. UU RI No. 20/2003
tentang Sistem Pendidikan. Pembelajaran
merupakan proses interaktif dimana siswa, guru dan sumber belajar berada dalam
satu lingkungan belajar.” Berdasarkan pernyataan-pernyataan tentang pengertian
manajemen pembelajaran, dapat dibedakan antara pengertian manajemen
pembelajaran dalam arti luas dan pengertian manajemen pembelajaran dalam arti
sempit.[4]
Dalam arti luas, manajemen
pembelajaran adalah seperangkat proses kegiatan yang mengarahkan pengajaran
siswa, dimulai dengan merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, atau
mengarahkan dan mengevaluasi kegiatan. “Sementara itu, manajemen
pembelajaran dalam arti sempit diartikan sebagai kegiatan yang harus dipimpin
guru dalam interaksi dengan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.” Dari beberapa pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa pembelajaran dan
manajemen pembelajaran adalah upaya mengarahkan pembelajaran yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pemantauannya, untuk
mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
B. Penggunaan LMS Moodle dalam Pembelajaran
Materi pembelajaran online Moodle adalah
aplikasi yang dapat mengubah materi pembelajaran secara online, namun
tetap berupa materi pembelajaran. “Melalui program ini, siswa dapat mengakses
bahan pelajaran, tes, jurnal elektronik, dan lainnya di ruang kelas digital. Moodle
adalah layanan berbasis web yang membantu pembelajaran online.” Nama Moodle sendiri berarti (Modular
Object-Oriented Dynamic Learning Environment), yang dapat digambarkan
sebagai sekolah berbasis model dan berbasis objek yang dinamis.[5]
Moodle adalah paket perangkat lunak yang
menggunakan prinsip pedagogi konstruksionis sosial dan dikembangkan untuk
kegiatan pembelajaran online dan situs web. “Moodle adalah aplikasi konsep dan mekanisme
belajar mengajar yang memanfaatkan teknologi informasi, yang dikenal dengan e-learning.
Moodle tersedia secara bebas sebagai produk sumber terbuka di bawah lisensi
GNU. Moodle dapat diinstal di komputer dan sistem operasi apa pun yang
mendukung database PHP dan SQL.” Pembelajaran daring ini juga memberikan akses
kepada guru dan siswa untuk partisipasi, pengumpulan tugas, soal latihan dan
media sumber belajar yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja, serta
memberi orang tua kemampuan untuk memantau perkembangan belajar siswa di
sekolah.[6]
Menurut pedagogi konstruksionis sosial,
seseorang belajar paling baik dari sudut pandang siswa itu sendiri. “Model pengajaran berorientasi objek (siswa) ini
berbeda dari sistem pengajaran tradisional, yang biasanya memberi siswa
informasi atau materi yang dianggap perlu oleh guru. Pekerjaan guru diubah dari
sumber informasi menjadi pemberi pengaruh dan contoh budaya kelas.” Peran guru dalam sistem Moodle ini meliputi
dapat menjangkau setiap siswa untuk memahami kebutuhan belajar mereka dan dapat
memimpin diskusi dan aktivitas yang menggerakkan siswa menuju tujuan
pembelajaran kelas.
Selain itu, agar hal di atas berfungsi dengan
baik, siswa harus membuat akun Moodle dengan kategori Siswa dan memasukkan kode
akses untuk mengakses kelas yang dibuat oleh guru di Moodle. “Selain itu, Moodle juga dapat membuat kuis atau
pertanyaan dengan jenis seperti multiple choice, true or false, search,
short entry dan lain-lain.” Kelebihan dari aplikasi Moodle adalah soal dapat di
import dari aplikasi lain terutama Excel.[7]
Keuntungan dari pertanyaan
online Moodle adalah guru tidak perlu meninjau pekerjaan siswa. “Dan soal-soal berupa tugas dapat diselesaikan di rumah, sehingga guru dapat
dengan mudah membimbingnya dari jarak jauh. Guru matematika sangat dimanjakan
untuk bertanya di Moodle yang penuh dengan simbol, persamaan, dan lateks ini.” Jadi segala macam
soal yang berisi gambar, simbol dan persamaan bisa ditulis di Moodle.[8]
Selain dapat membuat soal atau kuis dalam mata
kuliah, pengajar juga dapat membuat tugas. Fungsi ini persis sama dengan fungsi
penetapan Moodle. “Siswa
dapat mengunggah tugas yang diberikan dan guru hanya perlu memeriksa nama siswa
yang telah mengunggah tugas.” Selain soal atau kuis dan penugasan,
instruktur juga dapat membuat forum mata kuliah untuk dijadikan sebagai forum
diskusi bagi mahasiswa dalam treatment.
C. Penggunaan LMS Google Classroom dalam Pembelajaran
Google Classroom merupakan inovasi menarik dari
Google for Education karena merupakan produk yang bertujuan untuk
membantu guru dan siswa dalam melakukan proses belajar mengajar. Hal ini
menjadikan Google Classroom sebagai sarana pelaksanaan pembelajaran karena
dapat digunakan siswa belajar di luar waktu belajar yang tidak dibatasi oleh
ruang dan waktu.
Google Kelas membuat kegiatan belajar mengajar
lebih produktif dan bermakna dengan menyederhanakan tugas, meningkatkan
kolaborasi, dan mendorong komunikasi. Pengajar dapat membuat kursus, memberikan tugas, mengirim
umpan balik, dan melihat semuanya di satu tempat. “Sekolah dan organisasi mendapatkan Google
Classroom secara gratis sebagai layanan inti G Suite for Education dan G
Suite for Nonprofits.” Siapa pun yang memiliki Akun Google pribadi
juga dapat menggunakan kelas secara gratis.[9]
Google Kelas adalah alat berbasis web gratis
yang dikembangkan oleh Google. “Diluncurkan pada 12 Agustus 2014. Aplikasi ini digunakan
oleh guru dan siswa untuk saling berbagi file. Di Google Classroom, pengajar
dapat membuat tugas untuk siswa dan juga mengumpulkan tugas dari mereka. Guru
dan siswa dapat menggunakan program ini tanpa kertas.” Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan saat belajar online
dengan Google Classroom:[10]
1. Berbagi materi pelajaran
atau silabus,
2. Memberikan atau mengirimkan
tugas,
3. Mengadakan ujian atau kuis
Tanya jawab secara interaktif,
4.
Melihat
tugas mendatang lewat Google Calendar.
Selain berbagai manfaat di atas, Google
Classroom cocok dijadikan opsi untuk belajar online karena platform ini gratis,
bisa dijangkau siapa saja yang menggunakan smartphone, dan relatif aman. “Google Classroom mudah digunakan. Pengajar
dapat menyiapkan kelas dan mengundang siswa serta asisten. Di halaman Tugas, mereka
dapat berbagi informasi, tugas, pertanyaan, dan materi. Dengan Google Kelas,
guru dapat menghemat waktu dan kertas. Dapat membuat kursus, menetapkan tugas,
berkomunikasi, dan mengelola di satu tempat.” Google Classroom juga menawarkan lebih banyak kontrol.[11]
Siswa dapat melihat tugas
di halaman Tugas, di feed kelas, atau di kalender kelas. “Semua materi kursus disimpan secara otomatis di
folder Google Drive. Selain itu, Google Classroom memungkinkan komunikasi yang
lebih efektif antara guru dan siswa atau antar siswa. Guru dapat langsung
membuat tugas, memposting pengumuman, dan memulai diskusi kelas. Siswa dapat berbagi materi
dan berinteraksi di aliran kelas atau melalui email. Pengajar juga dapat dengan
cepat melihat siapa yang mengerjakan dan tidak menyelesaikan tugas, serta
memberikan nilai instan dan umpan balik waktu nyata. Google Classroom terjangkau, aman, dan
ditawarkan gratis ke sekolah, organisasi nirlaba, dan individu.” Tidak mengandung iklan dan tidak pernah
menggunakan konten pengguna atau informasi siswa untuk tujuan periklanan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam arti luas, manajemen
pembelajaran adalah seperangkat proses kegiatan yang mengarahkan pengajaran
siswa, dimulai dengan merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, atau mengarahkan
dan mengevaluasi kegiatan. Sementara itu, manajemen pembelajaran dalam arti
sempit diartikan sebagai kegiatan yang harus dipimpin guru dalam interaksi
dengan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.
Materi pembelajaran online
Moodle adalah aplikasi yang dapat mengubah materi pembelajaran secara online,
namun tetap berupa materi pembelajaran. Melalui program ini, siswa dapat
mengakses bahan pelajaran, tes, jurnal elektronik, dan lainnya di ruang kelas
digital. Moodle adalah layanan berbasis web yang membantu pembelajaran online.
Google Classroom merupakan
inovasi menarik dari Google for Education karena merupakan produk yang
bertujuan untuk membantu guru dan siswa dalam melakukan proses belajar
mengajar. Hal ini menjadikan Google Classroom sebagai sarana pelaksanaan
pembelajaran karena dapat digunakan siswa belajar di luar waktu belajar yang
tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
DAFTAR
PUSTAKA
Agung Handayanto,
R. S. (2015). Pembelajaran E-Learning Menggunakan Moodle Pada Mata Kuliah
Metode Numerik. Jurnal Informatika Upgris, 1(1), 42-48.
Carol Natasia, D. P. (2020). Pemanfaatan Media E-Learning
Moodle Untuk Menunjang Pembelajaran Mahasiswa di Fakultas Manajemen dan
Bisnis Universitas Ciputra. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran, 8(1),
169-179.
Erwinsyah, A. (2017). Manajemen Pembelajaran dalam
Kaitannya dengan Peningkatan Kualitas Guru. Tadbir: Jurnal Manajemen
Pendidikan Islam, 5(1), 69-84.
Haryadi, K. (2023). Sistem Manajemen Pembelajaran Pada SMP
Negeri 30 Palembang Berbasis Web. Jurnal Jupiter, 15(1), 381-392.
Hendrik Palinggi, W. T. (2021). Analisis Sistem Manajemen
Pembelajaran Tatap Muka Pada Masa Pandemi Covid-19 di SMA Kristen Rantepao. Jurnal
Manajemen Pendidikan, 10(1), 21-27.
Herbimo, W. (2020). Penerapan Aplikasi Moodle Sebagai Salah
Satu Model Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi. Ideguru: Jurnal karya
ilmiah guru, 5(1), 107-113.
Irsa Lina Aulia, J. M. (2022).
Pemanfaatan Aplikasi Google Classroom Sebagai Media Pembelajaran Pada Masa
Pandemi di Sekolah Dasar. Soshumdik, 1(2), 59-67.
Ridhani, A. K. (2016). Manajemen
Pembelajaran di Sekolah. Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab II
(pp. 478-485). Malang: Universitas Negeri Malang.
Rini Atikah, R. T. (2021). Pemanfaatan Google Classroom
Sebagai Media Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Petik, 7(1),
7-18.
Siti Lestari, M. (2021). Pemanfaatan Aplikasi Google
Classroom Sebagai ALternatif Dalam Pembelajaran Online. Jurnal Pembangunan
Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 9(2), 146-154.
Syamsul Rizal, B. W. (2019). Pembuatan Media Pembelajaran
E-Learning Berbasis Moodle Pada Mata Kuliah Pengantar Aplikasi Komputer
Universitas Serambi Mekkah. Jurnal Ilmiah Didaktika, 19(2), 178-192.
[1] “Haryadi dan
Kurniawan, “Sistem Manajemen Pembelajaran Pada SMP Negeri 30 Palembang Berbasis
Web,” Jurnal Jupiter 15, no. 1 (2023): 382.”
[2] “Hendrik
Palinggi dan Witarsa Tambunan, “Analisis Sistem Manajemen Pembelajaran tatap
Muka Pada Masa Pandemi Covid-19 di SMA Kristen Rantepao,” Jurnal Manajemen
Pendidikan 10, no. 1 (2021): 22.”
[3] “Ahmad Khatib
Ridhani, “Manajemen Pembelajaran di Sekolah,” Posiding Konferensi Nasional
Bahasa Arab II (Malang, 15 Oktober 2016): 482.”
[4] “Alfian
Erwinsyah, ”Manajemen Pembelajaran dalam Kaitannya dengan Peningkatan Kualitas
Guru,” Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan islam 5, no. 1 (2017): 73.”
[5] “Carol Natasia
dan Durinta Puspasari, “Pemanfaatan Media E-Learning Moodle Untuk Menunjang
Pembelajaran Mahasiswa di Fakultas Manajemen dan Bisnis Universitas Ciputra,” Jurnal
Pendidikan Administrasi Perkantoran 8, no. 1 (2020): 171.”
[6] “Syamsul Rizal
dan Birrul Walidain, “Pembuatan Media pembelajaran E-Learning Berbasis Moodle
Pada Mata Kuliah Pengantar Aplikasi Komputer Universitas Serambi Mekkah,” Jurnal
Ilmiah Didaktika 19, no. 2 (2019): 182.”
[7] “Widiatmoko
Herbimo, “Penerapan Aplikasi Moodle Sebagai Salah Satu Model Pembelajaran jarak
Jauh di Masa pandemi,” Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah guru 5, no. 1
(2020): 110.”
[8] “Agung
Handayanto, dkk., “Pembelajaran E-Learning Menggunakan Moodle Pada Mata Kuliah
Motode Numerik,” Jurnal Informatika Upgris 1, no. 1 (2015): 43.”
[9] “Rini Atikah,
dkk., “Pemanfaatan Google Classroom Sebagai Media Pembelajaran di Masa Pandemi
Covid-19,” Jurnal Petik 7, no. 1 (2021): 14.”
[10] “Irsa Lina
Aulia, dkk., “Pemanfaatan Aplikasi Google Classroom Sebagai Media Pembelajaran
Pada Masa Pandemi di Sekolah,” Soshumdik 1, no. 1 (2022): 65.”
[11] “Siti Lestari
dan Marhamah, “Pemanfaatan Aplikasi Google Classroom Sebagai ALternatif Dalam
Pembelajaran Online,” Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi 9,
no. 2 (2021): 148.”






0 comments:
Posting Komentar