Minggu, 09 Juli 2023

LEARNING MANAGEMENT SYSTEM (LMS)

 




BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Di era globalisasi dan otonomi daerah, tuntutan peningkatan pengajaran sekolah semakin banyak muncul, dimana arah pembelajaran telah berubah dari kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa saat ini. Artinya, reformasi sekolah, khususnya pembelajaran, merupakan hal mendesak yang harus direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, manajemen pembelajaran dituntut untuk mengetahui bagaimana menyelenggarakan pembelajaran di sekolah.[1]

Manajemen pembelajaran berarti seluruh pengaturan proses belajar mengajar untuk mencapai belajar mengajar yang efektif dan efisien. Pada dasarnya manajemen pembelajaran adalah pengorganisasian seluruh kegiatan pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran tersebut diklasifikasikan sebagai pendidikan inti dan kurikulum pendukung. Guru atau pendidik berperan sebagai pemimpin dalam pengelolaan pembelajaran. Oleh karena itu, pendidik memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan beberapa tahapan kegiatan pengelolaan, yang meliputi perencanaan pembelajaran, organisasi pembelajaran, pengarahan (directing) pembelajaran yang diselesaikan dan evaluasi.

Ketika merencanakan kegiatan pembelajaran, pendidik menentukan tujuan pembelajaran, yaitu tujuan yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu proses yang terdiri dari aspek-aspek, yaitu apa yang dilakukan siswa dan apa yang dilakukan guru. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan untuk mencapai proses pembelajaran yang berkualitas dan maksimal.[2]

Manajemen pembelajaran adalah bagian yang sangat penting dari proses pembelajaran dan pendidikan. Sehingga manajemen pembelajaran juga memiliki beberapa fungsi dan hal penting yang harus diperhatikan. Beberapa bagian terpenting dari manajemen pembelajaran adalah menciptakan lingkungan belajar, memenuhi pengajaran dan latihan siswa, meningkatkan kegiatan belajar dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Selain perencanaan tugas ajar bidang kognitif, perlu juga dilakukan perencanaan tugas ajar psikomotorik dan afektif pada saat penyusunan materi.

 

B.  Rumusan Masalah

1.    Bagaimana Konsep Sistem Manajemen Pembelajaran (Learning Management System)?

2.    Bagaimana Penggunaan Sistem Manajemen Pembelajaran Moodle dalam Pembelajaran?

3. Bagaimana Penggunaan Sistem Manajemen Pembelajaran Google Classroom dalam Pembelajaran?


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.  Konsep Sistem Manajemen Pembelajaran (Learning Management System)

Manajemen pembelajaran terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan belajar. Secara bahasa (etimologi), manajemen berasal dari kata kerja “to manage” yang berarti “mengendalikan”. Sementara itu, tergantung dari istilah (terminologinya), banyak pendapat mengenai pengertian manajemen, diantaranya menurut George R. Terry yang mengatakan bahwa manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pemprakarsaian dan pengendalian tindakan-tindakan untuk menetapkan tujuan dan menjangkau mereka dengan penggunaan sumber daya manusia dan lainnya.[3]

Sedangkan menurut Hanry L. Siski, manajemen adalah koordinasi seluruh sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan dan pengendalian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ini berarti bahwa manajemen secara tepat mengoordinasikan semua sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Menurut Ibrahim Bafadhal, manajemen pembelajaran adalah keseluruhan upaya mengatur proses belajar mengajar untuk mencapai proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Manajemen instruksional juga biasa disebut dengan manajemen kurikulum dan pembelajaran.

Belajar juga berasal dari kata “teaching” yang berarti “mengajar”. Pembelajaran pada hakekatnya merupakan interaksi antara anak dengan anak, anak dengan bahan pembelajaran, dan anak dengan pendidik. UU RI No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan. Pembelajaran merupakan proses interaktif dimana siswa, guru dan sumber belajar berada dalam satu lingkungan belajar. Berdasarkan pernyataan-pernyataan tentang pengertian manajemen pembelajaran, dapat dibedakan antara pengertian manajemen pembelajaran dalam arti luas dan pengertian manajemen pembelajaran dalam arti sempit.[4]

Dalam arti luas, manajemen pembelajaran adalah seperangkat proses kegiatan yang mengarahkan pengajaran siswa, dimulai dengan merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, atau mengarahkan dan mengevaluasi kegiatan. Sementara itu, manajemen pembelajaran dalam arti sempit diartikan sebagai kegiatan yang harus dipimpin guru dalam interaksi dengan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran. Dari beberapa pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa pembelajaran dan manajemen pembelajaran adalah upaya mengarahkan pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pemantauannya, untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

 

B.  Penggunaan LMS Moodle dalam Pembelajaran

Materi pembelajaran online Moodle adalah aplikasi yang dapat mengubah materi pembelajaran secara online, namun tetap berupa materi pembelajaran. Melalui program ini, siswa dapat mengakses bahan pelajaran, tes, jurnal elektronik, dan lainnya di ruang kelas digital. Moodle adalah layanan berbasis web yang membantu pembelajaran online. Nama Moodle sendiri berarti (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment), yang dapat digambarkan sebagai sekolah berbasis model dan berbasis objek yang dinamis.[5]

Moodle adalah paket perangkat lunak yang menggunakan prinsip pedagogi konstruksionis sosial dan dikembangkan untuk kegiatan pembelajaran online dan situs web. Moodle adalah aplikasi konsep dan mekanisme belajar mengajar yang memanfaatkan teknologi informasi, yang dikenal dengan e-learning. Moodle tersedia secara bebas sebagai produk sumber terbuka di bawah lisensi GNU. Moodle dapat diinstal di komputer dan sistem operasi apa pun yang mendukung database PHP dan SQL. Pembelajaran daring ini juga memberikan akses kepada guru dan siswa untuk partisipasi, pengumpulan tugas, soal latihan dan media sumber belajar yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja, serta memberi orang tua kemampuan untuk memantau perkembangan belajar siswa di sekolah.[6]

Menurut pedagogi konstruksionis sosial, seseorang belajar paling baik dari sudut pandang siswa itu sendiri. Model pengajaran berorientasi objek (siswa) ini berbeda dari sistem pengajaran tradisional, yang biasanya memberi siswa informasi atau materi yang dianggap perlu oleh guru. Pekerjaan guru diubah dari sumber informasi menjadi pemberi pengaruh dan contoh budaya kelas. Peran guru dalam sistem Moodle ini meliputi dapat menjangkau setiap siswa untuk memahami kebutuhan belajar mereka dan dapat memimpin diskusi dan aktivitas yang menggerakkan siswa menuju tujuan pembelajaran kelas.

Selain itu, agar hal di atas berfungsi dengan baik, siswa harus membuat akun Moodle dengan kategori Siswa dan memasukkan kode akses untuk mengakses kelas yang dibuat oleh guru di Moodle. Selain itu, Moodle juga dapat membuat kuis atau pertanyaan dengan jenis seperti multiple choice, true or false, search, short entry dan lain-lain. Kelebihan dari aplikasi Moodle adalah soal dapat di import dari aplikasi lain terutama Excel.[7]

Keuntungan dari pertanyaan online Moodle adalah guru tidak perlu meninjau pekerjaan siswa. Dan soal-soal berupa tugas dapat diselesaikan di rumah, sehingga guru dapat dengan mudah membimbingnya dari jarak jauh. Guru matematika sangat dimanjakan untuk bertanya di Moodle yang penuh dengan simbol, persamaan, dan lateks ini. Jadi segala macam soal yang berisi gambar, simbol dan persamaan bisa ditulis di Moodle.[8]

Selain dapat membuat soal atau kuis dalam mata kuliah, pengajar juga dapat membuat tugas. Fungsi ini persis sama dengan fungsi penetapan Moodle. Siswa dapat mengunggah tugas yang diberikan dan guru hanya perlu memeriksa nama siswa yang telah mengunggah tugas. Selain soal atau kuis dan penugasan, instruktur juga dapat membuat forum mata kuliah untuk dijadikan sebagai forum diskusi bagi mahasiswa dalam treatment.

 

C.  Penggunaan LMS Google Classroom dalam Pembelajaran

Google Classroom merupakan inovasi menarik dari Google for Education karena merupakan produk yang bertujuan untuk membantu guru dan siswa dalam melakukan proses belajar mengajar. Hal ini menjadikan Google Classroom sebagai sarana pelaksanaan pembelajaran karena dapat digunakan siswa belajar di luar waktu belajar yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Google Kelas membuat kegiatan belajar mengajar lebih produktif dan bermakna dengan menyederhanakan tugas, meningkatkan kolaborasi, dan mendorong komunikasi. Pengajar dapat membuat kursus, memberikan tugas, mengirim umpan balik, dan melihat semuanya di satu tempat. Sekolah dan organisasi mendapatkan Google Classroom secara gratis sebagai layanan inti G Suite for Education dan G Suite for Nonprofits. Siapa pun yang memiliki Akun Google pribadi juga dapat menggunakan kelas secara gratis.[9]

Google Kelas adalah alat berbasis web gratis yang dikembangkan oleh Google. Diluncurkan pada 12 Agustus 2014. Aplikasi ini digunakan oleh guru dan siswa untuk saling berbagi file. Di Google Classroom, pengajar dapat membuat tugas untuk siswa dan juga mengumpulkan tugas dari mereka. Guru dan siswa dapat menggunakan program ini tanpa kertas. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan saat belajar online dengan Google Classroom:[10]

1.    Berbagi materi pelajaran atau silabus,

2.    Memberikan atau mengirimkan tugas,

3.    Mengadakan ujian atau kuis Tanya jawab secara interaktif,

4.    Melihat tugas mendatang lewat Google Calendar.

Selain berbagai manfaat di atas, Google Classroom cocok dijadikan opsi untuk belajar online karena platform ini gratis, bisa dijangkau siapa saja yang menggunakan smartphone, dan relatif aman. Google Classroom mudah digunakan. Pengajar dapat menyiapkan kelas dan mengundang siswa serta asisten. Di halaman Tugas, mereka dapat berbagi informasi, tugas, pertanyaan, dan materi. Dengan Google Kelas, guru dapat menghemat waktu dan kertas. Dapat membuat kursus, menetapkan tugas, berkomunikasi, dan mengelola di satu tempat. Google Classroom juga menawarkan lebih banyak kontrol.[11]

Siswa dapat melihat tugas di halaman Tugas, di feed kelas, atau di kalender kelas. Semua materi kursus disimpan secara otomatis di folder Google Drive. Selain itu, Google Classroom memungkinkan komunikasi yang lebih efektif antara guru dan siswa atau antar siswa. Guru dapat langsung membuat tugas, memposting pengumuman, dan memulai diskusi kelas. Siswa dapat berbagi materi dan berinteraksi di aliran kelas atau melalui email. Pengajar juga dapat dengan cepat melihat siapa yang mengerjakan dan tidak menyelesaikan tugas, serta memberikan nilai instan dan umpan balik waktu nyata. Google Classroom terjangkau, aman, dan ditawarkan gratis ke sekolah, organisasi nirlaba, dan individu. Tidak mengandung iklan dan tidak pernah menggunakan konten pengguna atau informasi siswa untuk tujuan periklanan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.  Kesimpulan

Dalam arti luas, manajemen pembelajaran adalah seperangkat proses kegiatan yang mengarahkan pengajaran siswa, dimulai dengan merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, atau mengarahkan dan mengevaluasi kegiatan. Sementara itu, manajemen pembelajaran dalam arti sempit diartikan sebagai kegiatan yang harus dipimpin guru dalam interaksi dengan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.

Materi pembelajaran online Moodle adalah aplikasi yang dapat mengubah materi pembelajaran secara online, namun tetap berupa materi pembelajaran. Melalui program ini, siswa dapat mengakses bahan pelajaran, tes, jurnal elektronik, dan lainnya di ruang kelas digital. Moodle adalah layanan berbasis web yang membantu pembelajaran online.

Google Classroom merupakan inovasi menarik dari Google for Education karena merupakan produk yang bertujuan untuk membantu guru dan siswa dalam melakukan proses belajar mengajar. Hal ini menjadikan Google Classroom sebagai sarana pelaksanaan pembelajaran karena dapat digunakan siswa belajar di luar waktu belajar yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agung Handayanto, R. S. (2015). Pembelajaran E-Learning Menggunakan Moodle Pada Mata Kuliah Metode Numerik. Jurnal Informatika Upgris, 1(1), 42-48.

Carol Natasia, D. P. (2020). Pemanfaatan Media E-Learning Moodle Untuk Menunjang Pembelajaran Mahasiswa di Fakultas Manajemen dan Bisnis Universitas Ciputra. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran, 8(1), 169-179.

Erwinsyah, A. (2017). Manajemen Pembelajaran dalam Kaitannya dengan Peningkatan Kualitas Guru. Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 5(1), 69-84.

Haryadi, K. (2023). Sistem Manajemen Pembelajaran Pada SMP Negeri 30 Palembang Berbasis Web. Jurnal Jupiter, 15(1), 381-392.

Hendrik Palinggi, W. T. (2021). Analisis Sistem Manajemen Pembelajaran Tatap Muka Pada Masa Pandemi Covid-19 di SMA Kristen Rantepao. Jurnal Manajemen Pendidikan, 10(1), 21-27.

Herbimo, W. (2020). Penerapan Aplikasi Moodle Sebagai Salah Satu Model Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi. Ideguru: Jurnal karya ilmiah guru, 5(1), 107-113.

Irsa Lina Aulia, J. M. (2022). Pemanfaatan Aplikasi Google Classroom Sebagai Media Pembelajaran Pada Masa Pandemi di Sekolah Dasar. Soshumdik, 1(2), 59-67.

Ridhani, A. K. (2016). Manajemen Pembelajaran di Sekolah. Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab II (pp. 478-485). Malang: Universitas Negeri Malang.

Rini Atikah, R. T. (2021). Pemanfaatan Google Classroom Sebagai Media Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Petik, 7(1), 7-18.

Siti Lestari, M. (2021). Pemanfaatan Aplikasi Google Classroom Sebagai ALternatif Dalam Pembelajaran Online. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 9(2), 146-154.

Syamsul Rizal, B. W. (2019). Pembuatan Media Pembelajaran E-Learning Berbasis Moodle Pada Mata Kuliah Pengantar Aplikasi Komputer Universitas Serambi Mekkah. Jurnal Ilmiah Didaktika, 19(2), 178-192.

 

 

 

 



[1] Haryadi dan Kurniawan, “Sistem Manajemen Pembelajaran Pada SMP Negeri 30 Palembang Berbasis Web,” Jurnal Jupiter 15, no. 1 (2023): 382.

[2] Hendrik Palinggi dan Witarsa Tambunan, “Analisis Sistem Manajemen Pembelajaran tatap Muka Pada Masa Pandemi Covid-19 di SMA Kristen Rantepao,” Jurnal Manajemen Pendidikan 10, no. 1 (2021): 22.

[3] Ahmad Khatib Ridhani, “Manajemen Pembelajaran di Sekolah,” Posiding Konferensi Nasional Bahasa Arab II (Malang, 15 Oktober 2016): 482.

[4] Alfian Erwinsyah, ”Manajemen Pembelajaran dalam Kaitannya dengan Peningkatan Kualitas Guru,” Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan islam 5, no. 1 (2017): 73.

[5] Carol Natasia dan Durinta Puspasari, “Pemanfaatan Media E-Learning Moodle Untuk Menunjang Pembelajaran Mahasiswa di Fakultas Manajemen dan Bisnis Universitas Ciputra,” Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran 8, no. 1 (2020): 171.

[6] Syamsul Rizal dan Birrul Walidain, “Pembuatan Media pembelajaran E-Learning Berbasis Moodle Pada Mata Kuliah Pengantar Aplikasi Komputer Universitas Serambi Mekkah,” Jurnal Ilmiah Didaktika 19, no. 2 (2019): 182.

[7] Widiatmoko Herbimo, “Penerapan Aplikasi Moodle Sebagai Salah Satu Model Pembelajaran jarak Jauh di Masa pandemi,” Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah guru 5, no. 1 (2020): 110.

[8] Agung Handayanto, dkk., “Pembelajaran E-Learning Menggunakan Moodle Pada Mata Kuliah Motode Numerik,” Jurnal Informatika Upgris 1, no. 1 (2015): 43.

[9] Rini Atikah, dkk., “Pemanfaatan Google Classroom Sebagai Media Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19,” Jurnal Petik 7, no. 1 (2021): 14.

[10] Irsa Lina Aulia, dkk., “Pemanfaatan Aplikasi Google Classroom Sebagai Media Pembelajaran Pada Masa Pandemi di Sekolah,” Soshumdik 1, no. 1 (2022): 65.

[11] Siti Lestari dan Marhamah, “Pemanfaatan Aplikasi Google Classroom Sebagai ALternatif Dalam Pembelajaran Online,” Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi 9, no. 2 (2021): 148.

0 comments:

Posting Komentar